Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Tahap-Tahap Siklus Kehidupan Keluarga (1)

Keluarga berkembang mengikuti sebuah siklus. Meskipun setiap keluarga memiliki riwayat yang unik dalam mengalami setiap tahap perkembangannya, semua keluarga dianggap sebagai contoh dari seluruh pola normatif dan mengikuti urut-urutan perkembangan yang universal.
Dalam setiap tahap perkembangan ada tugas-tugas yang harus dicapai. Tugas-tugas perkembangan keluarga adalah tanggung jawab yang harus dicapai oleh keluarga selama setiap tahap perkembangannya sehingga dapat memenuhi kebutuhan afektif, sosial, perawatan kesehatan, reproduksi, dan ekonomi dalam keluarga.

Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga telah diuraikan oleh Duvall dan Miller (1985) dan Carter dan McGoldrick (1988). Tahap-tahap tersebut terdiri dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga sebagai berikut :
  • Tahap transisi: Keluarga antara (dewasa muda yang belum menikah)
Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20-an yang telah mandiri secara finansial, dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya namun belum berkeluarga. Bagaimana dewasa muda melewati tahap ini sangat mempengaruhi siapa yang dinikahinya serta bagaimana dan kapan pernikahan itu berlangsung. Untuk melewati tahap ini dengan sukses, dewasa muda harus berpisah dari keluarga asalnya (mandiri) tapi masih menjaga kontak emosional.
Tugas-tugas perkembangan pada tahap ini adalah (1) pisah dari keluarga asal, (2) menjalin hubungan intim dengan teman sebaya, serta (3) membentuk kemandirian dalam hal pekerjaan dan finansial.
Masalah-masalah kesehatan yang sering dijumpai pada tahap ini antara lain STD, masalah kesehatan mental, kecelakaan dan bunuh diri. Promosi kesehatan yang dapat dianjurkan adalah agar dewasa muda menghindari obat-obat terlarang, alkohol dan tembakau, serta mendapatkan tidur, nutrisi, istirahat, olahraga, perawatan gigi, dan uji kesehatan secara adekuat.

  • Tahap I : Keluarga pemula
Pernikahan dari sepasang insan menandai dimulainya keluarga baru. Tugas perkembangan yang paling penting dalam tahap ini adalah (1) membangun perkawinan yang saling memuaskan, (2) menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, dan (3) keluarga berencana.
Ketika dua orang diikat dalam satu pernikahan, maka mereka membangun SATU kehidupan bersama yang baru. Bersama-sama mereka menciptakan rutinitas baru yang sebelumnya dikompromikan bersama, dan memelihara rutinitas tersebut. Membangun perkawinan yang saling memuaskan juga berarti menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang ada, jangan sampai terjadi konflik. Untuk mencegah konflik, perlu dikembangkan sikap empati, saling mendukung, serta komunikasi secara terbuka dan sopan.
Pernikahan berarti menyatukan dua keluarga. Sehingga otomatis orang menikah akan menjadi bagian dari 3 keluarga : keluarga asal, keluarga pasangan, dan keluarga sendiri yang baru dibina. Di sini, suami-istri harus membina hubungan yang baik dengan setiap anggota keluarga, dan secara bersamaan menjaga otonomi keluarga sendiri sehingga tidak ada campur tangan yang akan merusak kebahagiaan bahtera pernikahan.
Masalah yang timbul antara lain masalah-masalah seksual dan emosional, kecemasan, kehamilan yang tidak diinginkan, dan penyakit kelamin baik sebelum maupun sesudah perkawinan. Untuk mengatasinya perlu ada penyuluhan dan konseling keluarga berencana, penyuluhan dan konseling prenatal, dan komunikasi.

  • Tahap II : Keluarga yang sedang mengasuh anak
Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama sampai bayi berumur 30 bulan. Meskipun bagi kebanyakan orang tua memiliki bayi merupakan pengalaman penuh arti dan menyenangkan, kedatangan bayi membutuhkan perubahan peran yang mendadak. Setelah kelahiran bayi, keluarga mempunyai beberapa tugas perkembangan yang penting, antara lain (1) membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga), (2) rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga, (3) mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, (4) memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orang tua serta kakek dan nenek.
Masalah perkawinan yang sering terjadi pada tahap ini adalah suami merasa diabaikan (ini paling sering disebutkan oleh suami), terdapat peningkatan perselisihan dan argumentasi antara suami istri, serta kehidupan seksual dan sosial yang terganggu dan menurun. Untuk mengatasinya, sangat penting membentuk kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan. Pasangan harus terus berbagi dan berinteraksi satu sama lain dalam hal tanggung jawabnya sebagai orang tua, dan peka tidak hanya dalam masalah pemenuhan kebutuhan seksual tapi psikologis pada umumnya.
Masalah-masalah utama keluarga dalam tahap ini adalah pendidikan maternitas, perawatan bayi yang baik, pengenalan dan penanganan masalah-masalah kesehatan fisik secara dini, imunisasi, konseling perkembangan anak, keluarga berencana, interaksi keluarga, dan peningkatan kesehatan secara umum.
Peran yang paling penting bagi perawat keluarga bila bekerja dengan keluarga yang sedang mengasuh bayi adalah mengkaji peran sebagai orang tua; bagaimana kedua orang tua berinteraksi dengan bayi baru dan merawatnya, dan bagaimana respon bayi tersebut. Konseling keluarga berencana biasanya berlangsung saat pemeriksaan setelah postpartum 6 minggu. Orang tua diajak berdiskusi mengenai perencanaan untuk memiliki bayi berikutnya. Orang tua perlu menyadari bahwa kehamilan dengan jarak rapat dan sering dapat berbahaya bagi ibu, ayah, saudara bayi dan unit keluarga secara keseluruhan.

  • Tahap III : Keluarga dengan anak usia prasekolah
Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir ketika anak berusia 6 tahun.  Anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya dalam hal kemandirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa campur tangan orang tua dimanapun mereka berada. Akhir-akhir ini banyak berkembang pendidikan prasekolah seperti PAUD, dsb. Program-program prasekolah yang terstruktur sangat bermanfaat dalam meningkatkan IQ dan keterampilan sosial.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah (1) memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan, (2) mensosialisasikan anak, (3) mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap mememuhi kebutuhan anak-anak yang lain, (4) mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan hubungan orang tua dan anak) serta di luar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
Anak usia prasekolah sangat senang mengeksplor dunia di sekitarnya. Karena itu penting bagi orang tua untuk menyediakan peralatan dan fasilitas yang bersifat melindungi anak-anak, karena pada tahap ini kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan cacat. Mengkaji keamanan rumah merupakan tugas penting bagi perawat keluarga dan kesehatan komunitas sehingga orang tua dapat mengetahui resiko-resiko yang ada dan cara-cara mencegah kecelakaan.
Penelitian menunjukkan bahwa hubungan perkawinan sering mengalami kegoncangan pada tahap ini. Pasangan suami istri masing-masing merasakan perubahan kepribadian yang negatif, merasa kurang puas dengan keadaan di rumah, terdapat lebih banyak interaksi yang berorientasi pada tugas, pembicaraan pribadi lebih sedikit dan pembicaraan yang berpusat pada anak lebih banyak, kehangatan yang diberikan kepada anak lebih banyak daripada yang diberikan satu sama lain, dan tingkat kepuasan seksual lebih rendah. Konselor perkawinan sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Masalah-masalah yang sering terjadi antara lain masalah kesehatan fisik anak seperti penyakit-penyakit menular yang lazim pada anak, jatuh, luka bakar, keracunan, dan kecelakaan-kecelakaan lain yang terjadi selama usia prasekolah. Masalah-masalah lain yang penting adalah persaingan di antara kakak-adik, keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalah-masalah pengasuhan anak, masalah komunikasi dalam keluarga, serta kesehatan umum.
Tujuan utama bagi perawat yang melayani keluarga dengan anak usia prasekolah adalah membantu mereka membentuk gaya hidup sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik, intelektual, emosional dan sosial secara optimal.

Jumat, 27 Agustus 2010

Mengenal Definisi dan Bentuk-Bentuk "Keluarga"

Penting bagi seorang perawat untuk mempelajari lebih jauh tentang "keluarga', di samping karena keluarga termasuk sasaran dalam pelayanan keperawatan, juga karena di dalam keluarga, seorang manusia pertama kali memperoleh nilai-nilai yang akan dibawanya ke mayarakat ketika ia dewasa.

Definisi keluarga menurut Burgess dkk (1963) adalah:
  1. Keluarga adalah kumpulan orang yang bersatu melalui ikatan perkawinan, darah, maupun adopsi.
  2. Keluarga adalah kumpulan orang yang hidup bersama dalam satu rumah tangga, ATAU, mereka yang hidup terpisah tetapi masih menganggap rumah tangga itu sebagai rumah mereka.
  3. Keluarga terdiri dari anggota keluarga yang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, sesuai peran masing-masing.
  4. Keluarga menggunakan kultur yang sama.
Tidak dipungkiri, sekarang telah berkembang bentuk-bentuk keluarga di luar kebiasaan keluarga kita (keluarga inti dengan ayah ibu dan anak-anak). Sedangkan definisi keluarga haruslah yang dapat menggambarkan bentuk-bentuk keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, definisi keluarga kemudian berkembang menjadi "dua orang atau lebih yang disatukan oleh kedekatan kebersamaan dan emosional, dan mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga".

Sebagai tambahan, keluarga dapat juga didefinisikan sebagai "kesatuan yang kompleks yang terdiri dari komponen-komponen, dimana masing-masing  komponen memiliki arti". Keluarga, adalah sebuah sistem sosial yang saling tergantung. Tujuan keluarga itu sendiri adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan kebudayaan (contohnya seorang mahasiswa macam saya yang di kampus menggunakan bahasa Indonesia, begitu sampai di rumah kembali ke 'adat' semula yaitu pakai bahasa Jawa halus...). Selain itu, tujuan keluarga adalah sebagai tempat perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial.

Bentuk keluarga menurut Sussman (1974) dan Macklin (1988) terdiri dari keluarga tradisional dan "variannya" yaitu keluarga nontradisional. Kata "varian" disini digunakan untuk menghindari konotasi negatif terhadap bentuk keluarga tersebut.

Keluarga tradisional
  • Keluarga inti
Pola yang umum adalah suami sebagai pencari nafkah, istri sebagai ibu rumah tangga, dan ada anak-anak. Akan tetapi ada variasi-variasi yang berkembang dari pola "umum" ini. Variasi tersebut adalah (a) suami dan istri sama-sama bekerja, (b) suami dan istri tidak memiliki anak, atau anak tidak tinggal bersama mereka.
Tipe istri yang bekerja ada dua macam. Ada yang bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi, ada pula yang selain karena motif ekonomi juga karena posisi (jabatan di tempat kerjanya). Istri yang bekerja dengan motif "posisi" lebih rentan stres karena tidak hanya ia menanggung beban kerja yang kompetitif, tapi juga karena masih harus mengurus rumah tangga dan merawat anak.
Keluarga dengan suami dan istri yang sama-sama bekerja, akhir-akhir ini ditemukan kecenderungan untuk menunda memiliki anak dan membatasi jumlah kelahiran. Bahkan ada yang dinamakan dyad family, dimana pasangan tersebut tidak memiliki anak karena sang wanita sudah lewat dari masa suburnya.
Selain itu, juga berkembang tipe keluarga baru yaitu commuter family yaitu pasangan suami istri yang hidup terpisah. Misalnya suami bekerja di luar kota dan pulang ke rumah tiap akhir pekan, sedangkan istri tinggal satu rumah bersama anak-anak.
  • Keluarga besar
Keluarga besar adalah dua keluarga inti atau lebih yang hidup dalam hubungan yang dekat dan saling mendukung satu sama lain, termasuk dalam tukar menukar barang dan jasa.
Contohnya keluarga yang dalam satu rumah ada kakek, nenek, ayah, ibu, dua orang anak, paman, bibi dan sepupu
  • Keluarga dengan orang tua tunggal
Keluarga dengan orang tua tunggal bisa terbentuk karena perceraian, kematian pasangan atau karena seorang ibu yang memiliki anak tersebut memang BELUM PERNAH menikah.
Meningkatnya jumlah keluarga dengan orang tua tunggal dipercaya ada hubungannya dengan meningkatnya angka perceraian, tingginya bantuan finansial yang diberikan pemerintah terhadap keluarga orang tua tunggal dengan anak-anak yang belum mandiri (tapi ini baru di luar negeri), dan tingginya angka kelahiran dari ibu yang tidak menikah. Faktor yang terakhir ini, dapat disebabkan oleh beberapa hal; yaitu aktivitas seksual yang terlalu dini, tidak menggunakan/tidak efektif menggunakan alat kontrasepsi, dan kemiskinan (kerjaannya begitu kok sudah berani menikah, mau diberi makan apa nanti anak-anaknya? Hmmm....pernah dengar kalimat seperti itu kan?).
Ada permasalahan khas pada keluarga dengan orang tua tunggal, seperti kondisi keluarga yang jadi lebih labil, kemiskinan, dan kurangnya pendidikan (meskipun tidak sedikit ibu yang dengan tegar hati belajar dari pengalaman sehingga anak yang beliau besarkan tidak kalah dari anak yang tumbuh dari keluarga normal). Solusinya antara lain dengan pelayanan prevetif primer seperti pendidikan seks sejak dini dan pengetahuan tentang KB. Selain itu perlu ada konseling, klinik sekolah dan pelayanan pada keluarga ibu-ibu remaja yang tidak menikah.
  • Orang dewasa yang tinggal sendirian
Kaum single berusia 20-30an yang tinggal sendiri, atau para lansia di panti jompo, tampak tidak memenuhi kriteria sebagai keluarga.Namun, sepanjang mereka masih memiliki keluarga di luar sana (atau bagi para lansia, teman-teman di panti jompo), mereka masih dapat dikategorikan sebagai keluarga.

Sedangkan bentuk varian keluarga nontradisional antara lain : (1) ibu yang memiliki anak tanpa menikah seperti yang telah diuraikan di atas, (2) perkawinan terbuka, yaitu pasangan yang memiliki anak tanpa menikah, (3) pasangan kumpul kebo, (4) keluarga gay/lesbian, (5) keluarga komuni.

Sumber: Friedman, M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.