Sabtu, 28 Agustus 2010

Tahap-Tahap Siklus Kehidupan Keluarga (1)

Keluarga berkembang mengikuti sebuah siklus. Meskipun setiap keluarga memiliki riwayat yang unik dalam mengalami setiap tahap perkembangannya, semua keluarga dianggap sebagai contoh dari seluruh pola normatif dan mengikuti urut-urutan perkembangan yang universal.
Dalam setiap tahap perkembangan ada tugas-tugas yang harus dicapai. Tugas-tugas perkembangan keluarga adalah tanggung jawab yang harus dicapai oleh keluarga selama setiap tahap perkembangannya sehingga dapat memenuhi kebutuhan afektif, sosial, perawatan kesehatan, reproduksi, dan ekonomi dalam keluarga.

Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga telah diuraikan oleh Duvall dan Miller (1985) dan Carter dan McGoldrick (1988). Tahap-tahap tersebut terdiri dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga sebagai berikut :
  • Tahap transisi: Keluarga antara (dewasa muda yang belum menikah)
Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20-an yang telah mandiri secara finansial, dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya namun belum berkeluarga. Bagaimana dewasa muda melewati tahap ini sangat mempengaruhi siapa yang dinikahinya serta bagaimana dan kapan pernikahan itu berlangsung. Untuk melewati tahap ini dengan sukses, dewasa muda harus berpisah dari keluarga asalnya (mandiri) tapi masih menjaga kontak emosional.
Tugas-tugas perkembangan pada tahap ini adalah (1) pisah dari keluarga asal, (2) menjalin hubungan intim dengan teman sebaya, serta (3) membentuk kemandirian dalam hal pekerjaan dan finansial.
Masalah-masalah kesehatan yang sering dijumpai pada tahap ini antara lain STD, masalah kesehatan mental, kecelakaan dan bunuh diri. Promosi kesehatan yang dapat dianjurkan adalah agar dewasa muda menghindari obat-obat terlarang, alkohol dan tembakau, serta mendapatkan tidur, nutrisi, istirahat, olahraga, perawatan gigi, dan uji kesehatan secara adekuat.

  • Tahap I : Keluarga pemula
Pernikahan dari sepasang insan menandai dimulainya keluarga baru. Tugas perkembangan yang paling penting dalam tahap ini adalah (1) membangun perkawinan yang saling memuaskan, (2) menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, dan (3) keluarga berencana.
Ketika dua orang diikat dalam satu pernikahan, maka mereka membangun SATU kehidupan bersama yang baru. Bersama-sama mereka menciptakan rutinitas baru yang sebelumnya dikompromikan bersama, dan memelihara rutinitas tersebut. Membangun perkawinan yang saling memuaskan juga berarti menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang ada, jangan sampai terjadi konflik. Untuk mencegah konflik, perlu dikembangkan sikap empati, saling mendukung, serta komunikasi secara terbuka dan sopan.
Pernikahan berarti menyatukan dua keluarga. Sehingga otomatis orang menikah akan menjadi bagian dari 3 keluarga : keluarga asal, keluarga pasangan, dan keluarga sendiri yang baru dibina. Di sini, suami-istri harus membina hubungan yang baik dengan setiap anggota keluarga, dan secara bersamaan menjaga otonomi keluarga sendiri sehingga tidak ada campur tangan yang akan merusak kebahagiaan bahtera pernikahan.
Masalah yang timbul antara lain masalah-masalah seksual dan emosional, kecemasan, kehamilan yang tidak diinginkan, dan penyakit kelamin baik sebelum maupun sesudah perkawinan. Untuk mengatasinya perlu ada penyuluhan dan konseling keluarga berencana, penyuluhan dan konseling prenatal, dan komunikasi.

  • Tahap II : Keluarga yang sedang mengasuh anak
Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama sampai bayi berumur 30 bulan. Meskipun bagi kebanyakan orang tua memiliki bayi merupakan pengalaman penuh arti dan menyenangkan, kedatangan bayi membutuhkan perubahan peran yang mendadak. Setelah kelahiran bayi, keluarga mempunyai beberapa tugas perkembangan yang penting, antara lain (1) membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga), (2) rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga, (3) mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, (4) memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orang tua serta kakek dan nenek.
Masalah perkawinan yang sering terjadi pada tahap ini adalah suami merasa diabaikan (ini paling sering disebutkan oleh suami), terdapat peningkatan perselisihan dan argumentasi antara suami istri, serta kehidupan seksual dan sosial yang terganggu dan menurun. Untuk mengatasinya, sangat penting membentuk kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan. Pasangan harus terus berbagi dan berinteraksi satu sama lain dalam hal tanggung jawabnya sebagai orang tua, dan peka tidak hanya dalam masalah pemenuhan kebutuhan seksual tapi psikologis pada umumnya.
Masalah-masalah utama keluarga dalam tahap ini adalah pendidikan maternitas, perawatan bayi yang baik, pengenalan dan penanganan masalah-masalah kesehatan fisik secara dini, imunisasi, konseling perkembangan anak, keluarga berencana, interaksi keluarga, dan peningkatan kesehatan secara umum.
Peran yang paling penting bagi perawat keluarga bila bekerja dengan keluarga yang sedang mengasuh bayi adalah mengkaji peran sebagai orang tua; bagaimana kedua orang tua berinteraksi dengan bayi baru dan merawatnya, dan bagaimana respon bayi tersebut. Konseling keluarga berencana biasanya berlangsung saat pemeriksaan setelah postpartum 6 minggu. Orang tua diajak berdiskusi mengenai perencanaan untuk memiliki bayi berikutnya. Orang tua perlu menyadari bahwa kehamilan dengan jarak rapat dan sering dapat berbahaya bagi ibu, ayah, saudara bayi dan unit keluarga secara keseluruhan.

  • Tahap III : Keluarga dengan anak usia prasekolah
Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir ketika anak berusia 6 tahun.  Anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya dalam hal kemandirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa campur tangan orang tua dimanapun mereka berada. Akhir-akhir ini banyak berkembang pendidikan prasekolah seperti PAUD, dsb. Program-program prasekolah yang terstruktur sangat bermanfaat dalam meningkatkan IQ dan keterampilan sosial.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah (1) memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan, (2) mensosialisasikan anak, (3) mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap mememuhi kebutuhan anak-anak yang lain, (4) mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan hubungan orang tua dan anak) serta di luar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
Anak usia prasekolah sangat senang mengeksplor dunia di sekitarnya. Karena itu penting bagi orang tua untuk menyediakan peralatan dan fasilitas yang bersifat melindungi anak-anak, karena pada tahap ini kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan cacat. Mengkaji keamanan rumah merupakan tugas penting bagi perawat keluarga dan kesehatan komunitas sehingga orang tua dapat mengetahui resiko-resiko yang ada dan cara-cara mencegah kecelakaan.
Penelitian menunjukkan bahwa hubungan perkawinan sering mengalami kegoncangan pada tahap ini. Pasangan suami istri masing-masing merasakan perubahan kepribadian yang negatif, merasa kurang puas dengan keadaan di rumah, terdapat lebih banyak interaksi yang berorientasi pada tugas, pembicaraan pribadi lebih sedikit dan pembicaraan yang berpusat pada anak lebih banyak, kehangatan yang diberikan kepada anak lebih banyak daripada yang diberikan satu sama lain, dan tingkat kepuasan seksual lebih rendah. Konselor perkawinan sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Masalah-masalah yang sering terjadi antara lain masalah kesehatan fisik anak seperti penyakit-penyakit menular yang lazim pada anak, jatuh, luka bakar, keracunan, dan kecelakaan-kecelakaan lain yang terjadi selama usia prasekolah. Masalah-masalah lain yang penting adalah persaingan di antara kakak-adik, keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalah-masalah pengasuhan anak, masalah komunikasi dalam keluarga, serta kesehatan umum.
Tujuan utama bagi perawat yang melayani keluarga dengan anak usia prasekolah adalah membantu mereka membentuk gaya hidup sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik, intelektual, emosional dan sosial secara optimal.

Jumat, 27 Agustus 2010

Mengenal Definisi dan Bentuk-Bentuk "Keluarga"

Penting bagi seorang perawat untuk mempelajari lebih jauh tentang "keluarga', di samping karena keluarga termasuk sasaran dalam pelayanan keperawatan, juga karena di dalam keluarga, seorang manusia pertama kali memperoleh nilai-nilai yang akan dibawanya ke mayarakat ketika ia dewasa.

Definisi keluarga menurut Burgess dkk (1963) adalah:
  1. Keluarga adalah kumpulan orang yang bersatu melalui ikatan perkawinan, darah, maupun adopsi.
  2. Keluarga adalah kumpulan orang yang hidup bersama dalam satu rumah tangga, ATAU, mereka yang hidup terpisah tetapi masih menganggap rumah tangga itu sebagai rumah mereka.
  3. Keluarga terdiri dari anggota keluarga yang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, sesuai peran masing-masing.
  4. Keluarga menggunakan kultur yang sama.
Tidak dipungkiri, sekarang telah berkembang bentuk-bentuk keluarga di luar kebiasaan keluarga kita (keluarga inti dengan ayah ibu dan anak-anak). Sedangkan definisi keluarga haruslah yang dapat menggambarkan bentuk-bentuk keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, definisi keluarga kemudian berkembang menjadi "dua orang atau lebih yang disatukan oleh kedekatan kebersamaan dan emosional, dan mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga".

Sebagai tambahan, keluarga dapat juga didefinisikan sebagai "kesatuan yang kompleks yang terdiri dari komponen-komponen, dimana masing-masing  komponen memiliki arti". Keluarga, adalah sebuah sistem sosial yang saling tergantung. Tujuan keluarga itu sendiri adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan kebudayaan (contohnya seorang mahasiswa macam saya yang di kampus menggunakan bahasa Indonesia, begitu sampai di rumah kembali ke 'adat' semula yaitu pakai bahasa Jawa halus...). Selain itu, tujuan keluarga adalah sebagai tempat perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial.

Bentuk keluarga menurut Sussman (1974) dan Macklin (1988) terdiri dari keluarga tradisional dan "variannya" yaitu keluarga nontradisional. Kata "varian" disini digunakan untuk menghindari konotasi negatif terhadap bentuk keluarga tersebut.

Keluarga tradisional
  • Keluarga inti
Pola yang umum adalah suami sebagai pencari nafkah, istri sebagai ibu rumah tangga, dan ada anak-anak. Akan tetapi ada variasi-variasi yang berkembang dari pola "umum" ini. Variasi tersebut adalah (a) suami dan istri sama-sama bekerja, (b) suami dan istri tidak memiliki anak, atau anak tidak tinggal bersama mereka.
Tipe istri yang bekerja ada dua macam. Ada yang bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi, ada pula yang selain karena motif ekonomi juga karena posisi (jabatan di tempat kerjanya). Istri yang bekerja dengan motif "posisi" lebih rentan stres karena tidak hanya ia menanggung beban kerja yang kompetitif, tapi juga karena masih harus mengurus rumah tangga dan merawat anak.
Keluarga dengan suami dan istri yang sama-sama bekerja, akhir-akhir ini ditemukan kecenderungan untuk menunda memiliki anak dan membatasi jumlah kelahiran. Bahkan ada yang dinamakan dyad family, dimana pasangan tersebut tidak memiliki anak karena sang wanita sudah lewat dari masa suburnya.
Selain itu, juga berkembang tipe keluarga baru yaitu commuter family yaitu pasangan suami istri yang hidup terpisah. Misalnya suami bekerja di luar kota dan pulang ke rumah tiap akhir pekan, sedangkan istri tinggal satu rumah bersama anak-anak.
  • Keluarga besar
Keluarga besar adalah dua keluarga inti atau lebih yang hidup dalam hubungan yang dekat dan saling mendukung satu sama lain, termasuk dalam tukar menukar barang dan jasa.
Contohnya keluarga yang dalam satu rumah ada kakek, nenek, ayah, ibu, dua orang anak, paman, bibi dan sepupu
  • Keluarga dengan orang tua tunggal
Keluarga dengan orang tua tunggal bisa terbentuk karena perceraian, kematian pasangan atau karena seorang ibu yang memiliki anak tersebut memang BELUM PERNAH menikah.
Meningkatnya jumlah keluarga dengan orang tua tunggal dipercaya ada hubungannya dengan meningkatnya angka perceraian, tingginya bantuan finansial yang diberikan pemerintah terhadap keluarga orang tua tunggal dengan anak-anak yang belum mandiri (tapi ini baru di luar negeri), dan tingginya angka kelahiran dari ibu yang tidak menikah. Faktor yang terakhir ini, dapat disebabkan oleh beberapa hal; yaitu aktivitas seksual yang terlalu dini, tidak menggunakan/tidak efektif menggunakan alat kontrasepsi, dan kemiskinan (kerjaannya begitu kok sudah berani menikah, mau diberi makan apa nanti anak-anaknya? Hmmm....pernah dengar kalimat seperti itu kan?).
Ada permasalahan khas pada keluarga dengan orang tua tunggal, seperti kondisi keluarga yang jadi lebih labil, kemiskinan, dan kurangnya pendidikan (meskipun tidak sedikit ibu yang dengan tegar hati belajar dari pengalaman sehingga anak yang beliau besarkan tidak kalah dari anak yang tumbuh dari keluarga normal). Solusinya antara lain dengan pelayanan prevetif primer seperti pendidikan seks sejak dini dan pengetahuan tentang KB. Selain itu perlu ada konseling, klinik sekolah dan pelayanan pada keluarga ibu-ibu remaja yang tidak menikah.
  • Orang dewasa yang tinggal sendirian
Kaum single berusia 20-30an yang tinggal sendiri, atau para lansia di panti jompo, tampak tidak memenuhi kriteria sebagai keluarga.Namun, sepanjang mereka masih memiliki keluarga di luar sana (atau bagi para lansia, teman-teman di panti jompo), mereka masih dapat dikategorikan sebagai keluarga.

Sedangkan bentuk varian keluarga nontradisional antara lain : (1) ibu yang memiliki anak tanpa menikah seperti yang telah diuraikan di atas, (2) perkawinan terbuka, yaitu pasangan yang memiliki anak tanpa menikah, (3) pasangan kumpul kebo, (4) keluarga gay/lesbian, (5) keluarga komuni.

Sumber: Friedman, M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.

Kangen

...menjalani hari-hari seperti zombi.

Memaksa diri bangkit dari tempat tidur berlomba dengan matahari pagi, berangkat ke kampus dan sejuta aktivitas lainnya. Berusaha menjadi senormal mungkin seperti yang terlihat orang.
Semua ini tidak mudah bagi saya. Tidak peduli bagaimana orang mencap saya tidak mandiri, saya tidak ingin dipisahkan darimu. Bukan berarti hubungan kita sedangkal itu. Tapi akan lebih menentramkan hati jika saja saya bisa meyakinkan diri bahwa di sana, dirimu baik-baik saja.
Kemudian, mencoba percaya bahwa dirimu lebih mandiri dari saya. Lebih bisa menjaga diri, dan mengatasi masalah perasaan dan tetek bengeknya, dan menjalani hidup yang lebih 'normal' dari yang saya jalani hari-hari terakhir ini. Dan sedikit hal yang (mungkin) membuat saya lega adalah, mengingat, bahwa apa yang kamu lakukan di sana, juga ada hubungannya untuk masa depan kita.

Saya rindu padamu.

Rabu, 25 Agustus 2010

Sasaran Keperawatan Kesehatan Komunitas

Sasaran atau klien dari keperawatan kesehatan komunitas adalah "populasi". Namun siapakah populasi itu?

Individu
Sasaran prioritas individu adalah balita gizi buruk, ibu hamil resiko tinggi, lansia, penderita penyakit menular (tuberkulosis paru, kusta, malaria, demam berdarah, diare dan ISPA atau pneumonia) serta penderita penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus dan stroke.

Keluarga
Keluarga yang menjadi sasaran prioritas adalah keluarga yang termasuk rentan terhadap masalah kesehatan (vulnerable group) atau resiko tinggi (high risk group) dengan prioritas sebagai berikut:
  • Keluarga miskin yang belum pernah kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dan belum mempunyai kartu sehat.
  • Keluarga miskin yang sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan serta mempunyai masalah kesehatan yang ada hubungannya dengan tumbuh kembang balita, kesehatan reproduksi, dan penyakit menular.
  • Keluarga yang tidak termasuk miskin, tidak mempunyai masalah kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan
Kelompok
Sasaran kelompok adalah kelompok masyarakat khusus yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan, baik yang terikat dalam suatu institusi maupun tidak. Contoh kelompok masyarakat khusus yang terikat dalam suatu institusi misalnya warga sekolah, pesantren, panti asuhan, panti wreda, rutan dan lapas. Sedangkan kelompok masyarakat khusus yang tidak terikat dalam institusi khusus misalnya posyandu, kelompok balita, ibu hamil, lansia, penderita penyakit tertentu dan pekerja informal.

Masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan, seperti:
  • Masyarakat di suatu wilayah yang (1) jumlah bayi meninggal lebih tinggi dari wilayah lain, (2) jumlah penderita penyakit tertentu lebih tinggi dari wilayah lain, (3) cakupan pelayanan kesehatan lebih rendah dari wilayah lain.
  • Masyarakat di daerah endemis penyakit menular
  • Masyarakat di lokasi atau barak pengungsian akibat bencana alam atau akibat lainnya
  • Masyarakat di tempat yang kondisi geografisnya sulit (daerah terpencil)
  • Masyarakat di daerah pemukiman baru yang sulit dijangkau transportasi, misalnya di daerah transmigrasi.

Sumber : Makhfudli & Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Area Praktik Keperawatan Kesehatan Komunitas

Menurut Depkes RI (2006), pelayanan keperawatan kesehatan komunitas dapat diterapkan langsung pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, seperti:

1. Unit pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas rawat inap dan rawat jalan (rumah sakit, puskesmas, dan sebagainya).

2. Rumah. Perawat home care memberikan pelayanan keperawatan pada keluarga di rumah yang menderita penyakit akut dan kronis. Peran home care adalah untuk meningkatkan fungsi keluarga dalam merawat anggota keluarga yang beresiko tinggi mengalami masalah kesehatan.

3. Sekolah. Area praktik perawat komunitas juga mencakup seluruh warga di lingkungan institusi pendidikan seperti siswa, guru dan karyawan baik di TK, SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Perawat sekolah dapat memberikan pelayanan sesaat (day care), screening, maupun memberikan pendidikan kesehatan.

4. Tempat kerja atau industri. Perawat melakukan kegiatan perawatan langsung terhadap kejadian kesakitan maupun kecelakaan minimal yang terjadi di tempat kerja, industri rumah tangga, pabrik dan lainnya. Selain itu perawat memberikan pendidikan kesehatan tentang keamanan dan keselamatan kerja, nutrisi seimbang, penurunan stres, olahraga, penanganan perokok, serta pengawasan makanan.

5. Barak penampungan. Perawat memberikan perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit kronis, serta kecacatan fisik ganda dan mental.

6. Kegiatan Puskesmas keliling. Pelayanan keperawatan dalam puskesmas keliling diberikan kepada individu, kelompok masyarakat di pedesaan, dan kelompok terlantar. Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pengobatan sederhana, screening kesehatan, perawatan kasus penyakit akut dan kronis, serta pengelolaan dan rujukan penyakit.

7. Panti atau kelompok khusus lain seperti panti asuhan anak, panti wreda, panti sosial lain, rumah tahanan serta lembaga pemasyarakatan.

8. Pelayanan pada kelompok resiko tinggi. Kelompok resiko tinggi seperti (1) kelompok wanita, anak-anak, dan lansia yang mendapat perlakuan kekerasan, (2) pusat pelayanan kesehatan jiwa dan penyalahgunaan obat, (3) tempat penampungan kelompok lansia, gelandangan, pengemis, kelompok orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan wanita tuna susila (WTS).

Keperawatan kesehatan komunitas identik dengan "penyuluhan kesehatan". Hal ini tidak sepenuhnya salah karena penyuluhan kesehatan juga bagian dari keperawatan kesehatan komunitas. Akan tetapi tugas perawat komunitas ternyata tidak sesimpel itu. Banyaknya area praktik dari perawat komunitas menuntut agar seorang perawat komunitas memahami konsep dari berbagai area dan melakukan fungsi advokasi pada berbagai tingkat sistem. Berminat menjadi perawat komunitas?

Sumber : Makhfudli & Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Perbedaan Keperawatan Komunitas dengan Disiplin Keperawatan Lain

Keperawatan kesehatan komunitas dapat dibedakan dari bidang keperawatan lainnya berdasarkan delapan prinsip berikut:

1. Klien keperawatan kesehatan komunitas adalah populasi
Walaupun perawat komunitas memberikan asuhan pada individu, keluarga, dan kelompok tetapi tanggung jawab tetap lebih dominan pada populasi keseluruhan.

2. Klien dianggap sebagai mitra yang sejajar
Mitra yang sejajar, artinya perawat komunitas harus bekerjasama dengan klien dalam mengkaji kebutuhan klien secara komprehensif. Perawat komunitas harus memahami bagaimana perspektif, prioritas, dan nilai-nilai yang ada dalam populasi tersebut dalam menginterpretasikan data dan kebijakan, memutuskan program, serta memilih strategi yang sesuai untuk dilaksanakan. Selain itu, klien berperan secara aktif. Pada awalnya memang perawat komunitas berperan dominan. Akan tetapi seiring waktu berjalan diharapkan klien semakin mandiri dan perannya semakin meningkat.

3. Tugas utama adalah meraih yang terbaik bagi sejumlah orang atau populasi keseluruhan
Mungkinkah ada individu yang kebutuhannya ternyata tidak sesuai dengan prioritas kesehatan yang menguntungkan bagi populasi keseluruhan? Inilah tugas perawat komunitas untuk mengidentifikasinya.

4. Berfokus pada pencegahan primer
Pencegahan primer meliputi promosi kesehatan dan proteksi kesehatan, dimana outcomenya adalah tercipta masyarakat yang mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya.

5. Memilih strategi untuk menciptakan lingkungan yang sehat (fisik, mental, sosial, ekonomi)
Intervensi keperawatan kesehatan komunitas meliputi pendidikan, pengembangan masyarakat, perencanaan sosial, kebijakan pengembangan, serta enforcement. Dalam melaksanakan intervensinya, perawat komunitas mungkin berbenturan dengan hukum, peraturan, kebijakan, dan prioritas dana. Untuk itu kemampuan advokasi merupakan bagian yang sangat penting dalam keperawatan kesehatan komunitas.

6. Tanggung jawab mencakup keseluruhan populasi yang memerlukan intervensi atau pelayanan spesifik
Ada beberapa faktor resiko yang tidak terdistribusi secara acak, jadi subpopulasi yang memiliki faktor resiko tersebut lebih dapat dipantau perkembangan penyakitnya. Atau ada bagian dari populasi yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan. Oleh karena itu keperawatan kesehatan komunitas harus bersifat case finding, jadi tidak terbatas pada masyarakat yang datang ke pelayanan kesehatan saja.

7. Penggunaan sumber-sumber dengan optimal
Perawat kesehatan komunitas harus bergerak berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Bukti-bukti ilmiah didapatkan dari literatur maupun studi lapangan, sehingga setiap aksi spesifik maupun program memiliki landasan ilmiahnya yang kuat.

8. Kolaborasi dengan berbagai jenis profesi
Komunitas yang sehat merupakan proses yang sangat kompleks dan memerlukan sumber daya yang intensif. Perawat kesehatan komunitas diharapkan bekerjasama dengan berbagai disiplin ilmu dalam upaya peningkatan kesehatan populasi.

Sumber : Makhfudli & Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Konsep Keperawatan Kesehatan Komunitas

Berbagai definisi keperawatan kesehatan komunitas telah dikeluarkan oleh organisasi-organisasi kesehatan profesional. Pada tahun 2004, American Nurses Association (ANA) mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat. Praktik tersebut dilakukan secara komprehensif, berkelanjutan, umum (tidak terbatas pada satu kelompok tertentu), dan tidak terbatas pada perawatan yang bersifat episodik. Sedangkan menurut American Public Health Association, keperawatan kesehatan komunitas merupakan sintesis dari ilmu kesehatan masyarakat dan teori keperawatan profesional yang tujuannya untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi.

Di Indonesia, istilah yang lebih sering digunakan adalah keperawatan kesehatan masyarakat (perkesmas). Tidak jauh berbeda dengan dua definisi sebelumnya, perkesmas adalah suatu bidang dalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan dari ilmu kesehatan masyarakat dan keperawatan yang dengan peran aktif masyarakat lebih berfokus pada pelayanan promotif dan preventif (tanpa melupakan pelayanan kuratif dan rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu. Pelayanan tersebut ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh, dan menggunakan proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga dapat mandiri dalam upaya kesehatannya (Depkes, 2006).

Peran serta aktif masyarakat dengan berfokus pada pelayanan promotif dan preventif maksudnya adalah komunitas/masyarakat dianggap sebagai klien/mitra kerja dalam mengidentifikasi kebutuhan kesehatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi strategi kesehatan. Tidak lupa, pelayanan kesehatan yang disediakan harus dapat dijangkau oleh seluruh bagian dari populasi.

Tujuan (outcome) dari perkesmas adalah untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah perkesmas secara optimal. Pada awalnya memang peran tim kesehatan komunitas sangat dominan. Tapi peran ini harus mengecil seiring berjalannya waktu, sehingga pada akhirnya peran masyarakat dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatannya yang dominan. Contoh kecilnya, seperti melatih adik kita berjalan. Awalnya si adik begitu tergantung, jalan harus dipegangi. Pertama-tama dia bisa berjalan dengan tertatih-tatih, lambat laun semakin tegak berjalannya sehingga tidak butuh kita pegangi lagi.

Sedangkan sasaran perkesmas adalah seluruh  komponen masyarakat yang terdiri dari individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Termasuk di dalamnya ada kelompok resiko tinggi, misalnya di daerah kumuh, terisolasi, berkonflik, dan kelompok yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan.

Sumber : Makhfudli & Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Selasa, 24 Agustus 2010

Pengantar Keperawatan Kesehatan Komunitas

Keperawatan kesehatan komunitas adalah sebuah konsep pendekatan dalam upaya penanganan kesehatan penduduk. Konsep pendekatan dapat berubah-ubah tergantung bagaimana masyarakat memandang, mempersepsikan dan menghargai kesehatan.

Definisi sehat itu sendiri berubah-ubah dari masa ke masa. Pada zaman keemasan Yunani, sehat dipandang sebagai suatu keadaan standar yang harus dicapai dan dibanggakan, dan sakit dipandang sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Setelah ditemukannya kuman penyebab penyakit, definisi sehat bergeser. Seseorang dikatakan sehat jika setelah diperiksa dengan seksama, tidak ditemukan kuman penyebab penyakit dalam tubuhnya.

World Health Organization pada tahun 50-an mendefinisikan sehat sebagai suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit dan kelemahan. Definisi ini disempurnakan kembali pada tahun 80-an dengan menambahkan aspek produktif sosial ekonomi di dalamnya. Definisi sehat yang kita kenal sekarang adalah 'sehat produktif', dimana sehat dipandang sebagai sarana atau alat untuk mencapai hidup produktif. Sehingga, kita jangan berbangga hati dulu jika ada yang menyatakan bahwa usia harapan hidup di Indonesia meningkat. Sudahkah peningkatan usia harapan hidup tersebut diiringi dengan peningkatan produktivitas dan kualitas hidup?

Pembangunan kesehatan adalah salah satu dari sekian fokus pembangunan nasional yang sedang berjalan. Jika kita meninjau Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dapat kita nyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya dilihat dari pendidikan maupun pendapatan perkapitanya, melainkan juga kesehatan. Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN), disebutkan bahwa upaya untuk mencapai kesehatan terdiri dari dua subsistem, yaitu upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM).

Di UKM inilah keperawatan kesehatan komunitas mengambil peran. Ada banyak sekali masalah kesehatan yang terdapat di Indonesia. Misalnya gizi buruk, penyakit menular (tuberkulosis paru, kusta, malaria, demam berdarah, diare, dan ISPA atau pneumonia), serta penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus dan stroke. Jika tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit berfokus pada bagaimana menyembuhkan, keperawatan kesehatan komunitas berfokus pada bagaimana mendeteksi dini adanya resiko dan mencegah, sehingga masyarakat menjadi lebih tahu, mampu dan mau mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya.

Sumber : Makhfudli & Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika.

Senin, 23 Agustus 2010

Gadis yang mengagumkan

...menginjak sepuluh hari kedua bulan Ramadhan 1431 H...dengan "cuti bulanan", hehehe. Akhirnya disaat temen-temen kos pada tarawih, saya di kamar berkutat dengan skripsi (sudah bab III, alhamdulillah). Bosen dengan skripsi, saya langsung connect internet nge-download latar belakang skripsi seorang teman, yang dia kirimkan khusus buat saya koreksi. Ah, ya nggak koreksi sih, cuma dibaca-baca dan ditambahin kata sambung supaya tambah sedep, hehe. Itung2 latihan jadi dosen.

Ehem, begitu rampung, langsung buka halaman yang lain deh. Naluri keibuan saya yang menguat akhir-akhir ini (terimakasih pada mbak wied yang mengabarkan kalau 8 bulan lagi saya bakal punya ponakan) membuat batin tergelitik untuk membuka situs yang menyediakan nama-nama bayi.

Wuih...nama bayi zaman sekarang cakep-cakep dan variatif yah. Artinya bagus-bagus lagi. Saya paling suka kombinasi nama ini : BELDA SHANI AIDA, yang berarti "Gadis yang mengagumkan dan suka menolong". Udah tak-cim dulu yah nih nama, syukur2 besok kalau punya bayi cewek bisa dipake betulan, hehehe...=)